Budak Parsial
Budak Parsial
Huru-hara
kehidupan yang serba persaingan, hura-hura para remaja yang senang dengan
penghamburan dan penyia-nyiaan uang. Setidaknya begitulah kehidupan yang harus
kuhadapi saat ini. Dunia yang penuh dengan tipu muslihat, dipenuhi orasi dan
provokasi sebagai bumbu penyedap yang mana kelak akan dinikmati kaum awam yang
senang melahap habis tanpa pikir panjang.
Langkahku
terhenti di depan toko buku yang dipenuhi surga bacaan. Tempat yang cocok untuk
para penulis menjual pikiran serta imajinasi mereka dalam wadah secarik kertas
yang kemudian dibukukan. “Setidaknya
dunia yang ada di dalam toko itu lebih jujur dan menarik dari dunia yang
sedang kujalani ini.” pikirku.
Andai
aku bisa menulis juga, akan kutulis semua keluh kesah hidupku. Masa bodoh
dengan para pembaca, persetan dengan aturan tulisan, asal hatiku terpuaskan
sudah cukup bagiku. Lagi pula peraturan yang sedang gencar-gencarnya disuarakan
oleh penegak hukum negara. Peraturan juga yang menjadi senjata yang ampuh bagi
mereka untuk memeras habis kantong rakyat jelata. Penegak hukum apanya, demokrasi apanya. Jaksa, polisi, aparat
negara, pejabat tinggi negara seolah hanya seonggok nama yang bersumpah di bawah
kitab kepercayaan.
'Mengabdi
kepada negara' omong kosong yang sudah lama dimaklumkan. Kapitalisme,
nepotisme, chauvisme praktik yang sudah berjalan berkepanjangan.
"Kau
mau apa melihat toko buku yang bahkan tidak bisa kau masuki?" tanya Ferdy
teman sepemulungku. Distrik 13. Tempat kami menginjakkan tombak hidup dan
menggantung tinggi harapan. Sebuah toko buku saja seperti bangunan mewah nan
hebat di sini. Pejabat serta penjilat mengubah sebuah tatanan hidup menjadi
sekat-sekat kesenjangan yang hebat. Hal ini sudah menjadi polemik serta
perdebatan panjang di ranah sosialita. Hidup dimana ditolok ukurkan oleh harta dan tahta. Setiap
distriknya menggambarkan kasta hidup masyarakat. Distrik pusat menjadi panggung
utama dari negara kapitalis ini. Dasi rapi, olah kata, olah berita serta
permainan tahta menjadi keseharian disana. Sebuah gambling yang ditata
amat sangat rapi. Tak banyak yang tau akan keindahan dan kemewahan dunia itu.
Setiap distrik dari 5 hingga distrikku -distrik terakhir- yang ada di negara
ini diisolasi tanpa adanya jaringan komunikasi yang baik. Di dunia yang semodern
ini kami dipaksa untuk mundur dan tetap jalan di tempat sambil menunggu
disambut oleh penghujung hidup.
"Terkadang
aku mulai berpikir betapa tak adilnya hidup ini." jawabku.
"Kemana
saja kau? Memang itulah hidup, kau tak bisa membenci skema yang sudah diatur Tuhan."
Ia menarik napas.
"Lagi
pula kau percaya rukum iman ke-6 kan?" tanyanya terkekeh.
"Kalau
kau sudah bicara agama, bisa bicara apalagi aku?" celotehku kesal sambil
menghela napas berat.
Ah
memang dunia tulis menulis hal yang indah. Kau bisa membuat alur sesukamu, kau
bisa membuat dirimu menjadi tokoh utama dalam ceritamu, yang mana bisa kau buat
sekuat baja, sedisiplin tentara, setampan artis yang ada di luar sana, sekaya 7
turunan pun bisa kau buat. Cukup bermodalkan secarik kertas, pulpen ataupun
pensil dan segudang ide maupun imajinasi. Seperti buku-buku yang ada di toko
buku tersebut. Walaupun aku tahu isi dari toko buku itu hanya buku lama yang
dikirim dari pusat dengan harga yang tak masuk akal untuk distrik kami.
"Kau
tahu fer? Aku masih bertanya-betanya tentang dunia yang terasa aneh ini."
"Dunia
ini memang sudah aneh sedari dulu."
"Dunia
ini diciptakaan oleh yang maha adil, tapi dunia ini sendiri sudah tak adil,
dimana letak keadilan sang pencipta? Maksudku lihat saja kita." tanyaku
sambil beranjak dari tanah yang mulai terpapar sinar matahari.
"Waktu
itu pemerintah, sekarang Tuhan pun kau salahkan atas hidupmu ini."
jawabnya sambil mengerutkan dahi tanda keseriusan.
"Oke
oke aku tak mau terlihat seperti atheis bodoh yang pesimis, ku ubah redaksi
pertanyaanku. 'Apa kita tak boleh bahagia juga?' "
"Tenanglah
kawan, bahagia jangan kau sempitkan maknanya." Dia menyodorkan air putih
dalam botol mineral bekas. Kuteguk secupnya dan seperlunya. Kami berjalan
meninggalkaan pemukiman sampah dan mulai kehilangan bayangan tempat tersebut di
pertigaan jalan yang kami ambil. Kota masih konsisten dengan aura sedih
walaupun beberapa orang bisa kubilang sebagai golongan kaum sinisme.
Begitulah aku memanggil mereka yang tetap bahagia dengan sedikit -bahkan hampir
tak ada- sedikit pun harta di hidupnya. Namun, apakah kalian tahu? Dengan
begitulah tak ada yang bisa mengambil kebahagiannya sedikit pun. Aku tak tahu
tapi semua deskripsi itu mirip sekali dengan “filosofi tong” dari buku yang
pernah kubaca. Buku yang seharga sebulan cucur keringatku dan aku membelinya
karena sampul yang menarik serta keadaan buku yang masih bisa dibilang “baik”.
Cerita buku yang mirip dengan hidup kami sekarang yang berusaha mengejar kata
kebahagiaan. Namun, aku juga tak mau masuk kedalam golongan sinisme ini.
Golongan yang disebarluaskan pemikirannya oleh murid Socrates atau biasa
dikenal dengan nama Antisthenes pada tahun 400 SM di Athena. Mereka
yang hanya pasrah akan realita tanpa berusaha membangun kembali takdir. Bahkkan mereka tak perlu repot-repot
memikirkan penderitaan orang lain yang hanya membuat dahi berkerut. Apatis. Ya
benar, itulah mereka yang kumaksud.
"Apa
maksudmu? " Kulanjutkan pertanyaanku.
"Maksudku,
banyak orang yang memiliki uang tak merasakan ketenangan, mereka mulai dilanda
kegelisahan sebab uang yang tak bersih hasilnya. Ada juga yang memiliki banyak
harta tapi harus diperkosa waktu dan jabatan."
"Intinya
?"
"Bahagia
bukan hanya bertolok ukurkan materi, fisik dan jabatanna saja. Ada banyak makna
kebahagian yang bisa kau buat sendiri."
"Jadi
maksudmu dengan mengais tong sampah juga merupakan satu makna bahagia begitu?
" tanyaku meledek.
Memang
sudah fakta yang mutlak di distrik ini. Mayoritas adalah pengais sampah. Kami
terlalu jauh bandingannya dengan kaum elit dari distrik 1 ataupun 2 yang di dalamnya
merupakan pusat industri dan jalur perdagangan dunia. Kami hanya bisa masuk
seperempat kota saja dengan lisensi “pengais” sampah. Di sanalah hasil keringat
kami ditimbang, dipilah dan dihargai sesuai dengan standart of recycle (SOR).
SOR merupakan standar harga sebuah sampah yang diatur dunia untuk setiap orang
yang ingin mendaur ulang sampahnya. Semua sampah tersebut akan diolah di daerah
industri dan diubah menjadi sesuatu yang bahkan kami sendiri tidak mengetahuinya.
Distrik lain terlalu sibuk dengan kegiatannya. Mereka lebih senang langsung
membuang sampah mereka ke TPA dan berakhir dikumpulkan di distrik kumuh kami. Di
situlah kami, para “pengejar” SOR. Bekerja keras mengais gunung sampah demi menunjang
hidup yang tak dapat dikatakan hidup lagi. Dengan kendaraan paling canggih di
dunia -lebih tepatnya di distrik kami- yang mirip dengan kendaraan sepeda motor
bermesin. Namun harus dikayuh kurang lebih setengah jam agar dinamo mesin dapat
menyimpan energi yang cukup dan dapat berjalan kurang lebih 150 km jauhnya. Jarak
distrik kami dengan tempat pengolahan tersebut bisa mencapai 30 km jaraknya.
Semua demi kertas dan koin-koin kecil yang membuat hampir dua pertiga penduduk
bumi menggila.
"Kenapa
tidak? Sudahlah tak baik jadi manusia yang hanya berkeluh kesah." Ia
menjawab sambil terkekeh.
“Baiklah
setidaknya kita tak masuk kedalam kaum sinisme di kota gila ini.”
“Kurasa
kau harus sedikit mengurangi tensi membaca buku anehmu itu, itu membuat otakmu
sedikit miring.” Ferdy selalu risih ketika aku sudah mulai berkicau
masalah ini. Tapi setidaknya itu sedikit menyenangkan dapat berdialektika
dengannya. Dia yang mantan dari universitas terkenal dulu selalu punya
pemikiran yang menurutku luas. Hanya nasib yang sedang tidak berpihak padanya.
Ketika orangtuanya meninggal, ia harus berhenti dan menyekolahkan adik-adiknya
yang tak tahu diri. Mereka tak ada kabar setelah adanya aturan penaikan taraf
hidup di setiap distriknya. Aturan yang membuat banyak orang berbondong-bondong
pindah distrik yang lebih kumuh agar tak mati dicekik pajak negara.
Adik-adiknya Ferdy yang sudah hidup pas-pas di distrik yang lebih elit tak mau
ambil pusing dengan membawa kakaknya ke distrik mereka. Mereka tak mau tercekik
pajak gila demi satu malaikat hidup yang bahkan merelakan sayapnya demi mereka.
Egois.
Ferdy
selalu mengatakan satu hal setiap kali aku menyinggung adik durhakanya. “Tak
apa kawan, aku hanya air yang dengan senang hati jatuh ketanah yang paling bawah
demi membuat adikku indah seperti pelangi saat hujan.” jawabnya enteng. “Lagi
pula air tak pernah menuntut pelangi atas semua yang telah terjadi bukan?” Dia
terkekeh renyah nan getir di kalimat akhirnya. Jika aku menjadi dia mungkin aku
sudah lama menyumpahi adikku dari seberang distrik sana.
Aku
tahu temanku ini bukan lulusan sarjana, bukan pula ahli pembicara tapi ia
selalu membuatku tertegun acap kali kata bijak keluar dari lidahnya. Dia benar,
Dunia ini memang sudah tak adil, tapi setidaknya dunia ini diciptakan yang maha
adil. Biar Dia saja yang menunjukkan arti kata dan maknanya saja. Biar manusia juga
yang berusaha menegakkan adil itu sesuai dengan persepsi bersama. Semua
keadilan itu akan segera ditegakkan. Kesetaraan akan dijunjung tinggi kembali.
Setelah hampir berjalan kaki hampir 15 menit.
Kami akhirnya sampai di sebuah kerumunan massa yang sudah sedari tadi memanas di
jalan. Warga sudah muak dengan kapitalisme yang terjunjung tinggi dan bertahan
hampir setengah abad di negeri ini. Distrik-distrik miskin lainnya tak mau
kalah. Mereka juga ambil andil dalam kerusuhan yang hampir melibatkan setengah
penduduk negeri. Krisis ekonomi dimana-mana. Distrik petani dan perkebunan
mulai mogok menyuplai pangan ke pusat. Mereka memanen untuk kebutuhan mereka
tanpa dijual kepemasok, begitupula sektor distrik lainnya. Kerusuhan memanas di
seluruh penjuru negeri. Negeri ini sekarat. Hampir mati. Sasaran para distrik
kumuh adalah disrik elit terlebih dahulu. Distrik elit mulai dari satu hingga
empat mulai lumpuh. Hari ini adalah hari pertama kalinya aku dan ferdy tidak
lagi mengais sampah. Pertama kalinya kami Lelah dengan semua lingkarang
kehidupan ini. Kami ikut turun ke jalan untuk menyuarakan hak kami. Ikut dalam
acara besar ini. Rakyat mulai menginvasi
distrik elit. Menjarah, membakar serta melakukan orasi di sepanjang jalan.
Kengerian mulai terjadi, situasi mulai anarkis. Mereka mulai tidak waras dengan
memasuki rumah-rumah elit dan membantai mereka satu persatu. Wanita distrik elit
ditarik keluar dari rumah. Diperkosa di jalanan, dipertontonkan layaknya mainan
tanpa seragam. Wanita dari distrik kami satu persatu ciut dan memutuskan
pulang ke rumah masing-masing setelah melihat hal yang diluar dugaan.
Aku
dan Ferdy mulai merasa tidak benar dengan unjuk rasa ini. Ini tidak layak
dikatan sebagai unjuk rasa, ini lebih tepat dikatakan “pembantain”. Apa bedanya
kita dengan binatang jika seperti ini. Kengerian berlanjut ketika warga distrik
kumuh mulai mendobrak dan memaksa masuk kawasan distrik pusat yang terbentengi
oleh dinding beton yang dihiasi marmer merah dari luarnya. Dinding itu
menjulang tinggi dengan tinggi kurang lebih 10 meter ke atas dan tebal hampir
satu meter lebih. Para petinggi negara seolah sudah memprediksi kejadian ini.
Mereka sudah membuat kandang berlapis baja yang cukup kuat untuk diri mereka.
Massa lebih memilih murka, gerbang besar itu hampir runtuh dan goyang oleh
tekad kesetaraan. Tentara negara dikerahkan para berdasi rapi. Menembak membabi
buta, tak kenal tua dan muda. Semua habis dihujani timah panas. Namun, seolah
tak ada takut akan mati, rakyat terus memaksa masuk. Hidup mereka sudah tak
asing dengan kematian. Setiap hari yang dilalui seolah pemberian yang sangat
berarti jika mereka masih hidup. Dari situlah mereka sudah siap mendayung di lautan
darah pada siang yang terik. Aku menelan ludah, manusia sudah hilang akal
sehatnya. Unjuk rasa ini cukup membuatku muak dan kemuakanku hampir setara
dengan pemerintah saat ini. Anak-anak tak seharusnya melihat hal yang sangat
mengerikan ini. Ultimatum sudah dikeluarkan, rakyat sudah tutup telinga. Mereka
hanya mengandalkan indra penglihatan mereka. Bagi mereka dimana ada tikus
disitulah pembasmi hama bekerja.
Aku
dan Ferdy masih mengayuh rakit kecil yang bermuatan anak-anak yang sudah
diserang trauma hebat. Hampir tiga minggu kami bolak balik dari Kawasan distrik
7 -distrik perikanan- yang memuat banyak kapal yang sudah dirusak massa ke
pulau kecil dan bermukim di sana. Terdapat
setidaknya belasan penduduk yang lebih memilih hidup damai di pulau
kecil tersebut. Mereka tidak tahu menahu akan hal yang sedang terjadi. Mereka
juga siap menerima kami yang memohon bantuan mereka. Di distrik, anak-anak yang
kami lihat kami bawa dan kami rawat disana. Bukan saatnya mereka merasakan hal
tersebut.
“Terima
kasih wan, sudah mengizinkan kami bermukim dan mambantu merawat
anak-anak ini.” ucap Ferdy sopan. Uwan yang kerap kami panggil demikian
dengan senang hati menerima kami. Setiap kali kami pulang ke distrik tempat
semua kericuhan meledak. Kami harus melewati gelimpangan mayat sambil berusaha
mencari anak ataupun orang yang terluka. Negeri kami mati total. Unjuk rasa
masih berlangsung, korban terus bertambah setiap harinya. Setidaknya itulah
harga yang harus dibayar negara untuk segala tindakan petinggi kapitalis yang rakus
akan harta dan tahta.
.
.
.
Terima kasih ku ucapkan untuk semua teman, kerabat maupun kalian yang telah menyempatkan waktunya untuk membaca sebuah cerita pendek yang ditulis dengan semangat "kecil" dari hati kecil di sisi hatiku yang paling dalam. kuharap kalian menikmati kesan pertama dari blog yang kutulis ini :)
sekian.
sekian.
Komentar
Posting Komentar