Singkawang dalam Kacamata Kemiskinan
Dalam kehidupan bermasyarakat sosial, ketimpangan dan kemiskinan merupakan isu sosial yang masih menjadi perhatian dunia. Isu global ini banyak mempengaruhi berbagai negara serta masyarakatnya. Implikasi dari kemiskinan memberikan pengaruh diberbagai bidang sektor serta dimensi masyarakat lainnya seperti kesehatan, kualitas kehidupan, kualitas Pendidikan, agama, sosial, budaya dan aspek lainnya. Pada ranah internasional, Sustainable Development Goals (SDGs) mengangkat kemiskinan dan ketimpangan sebagai masalah utama yang harus segera ditangani. Hal ini tercantum dalam beberapa tujuan utama SDGs yang salah satunya adalah “Mengakhiri Kemiskinan dalam Segala Bentuk dimana pun” (End poverty in all its forms everywhere).”
Pada
skala nasional, Badan Pusat Statistik mendefinisikan kemiskinan sebagai ketidak
mampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebuhan dasar makanan. Pendekakatan
yang menggunakan pendekatkaan konsep kebutuhan dasar (basic needs approach)
merujuk dari konsep handbook on poverty and equality yang diterbitkan oleh
worldbank. Penduduk yang dikategorikan sebagai masyarakat miskin adalah
masyarakat yang memiliki rata – rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah
dari garis kemiskinan. Garis kemiskinan sebagaiman yang dimaksud adalah nilai rupiah
pengeluaran minimum yang diperlukan seseorang untuk memenuhi kebutuhan pokok
hidupnya selama sebulan, baik kebutuhan makanan maupun non-makanan.
Kalimantan
Barat sebagai salah satu provinsi di Indonesia tidak terlepas dari permasalah
kemiskinan. Pada kasus lima tahun kebelakang, potret penduduk miskin provinsi Kalimantan
Barat dapat dilihat pada grafik berikut.
Pada tahun 2021 angka penduduk miskin sempat meningkat sebesar 0,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu faktor penyebabnya adalah pandem COVID-19. Secara umum. Dilain sisi, kemiskinan di Kalimantan barat menunjukkan tren yang cendrung terus menurun. Walau demikian, jika dibandingkan dengan provinsi Kalimantan lainnya, angka ini masih termasuk tinggi.
Dalam
penyajian data per kabupaten/kota di Kalimantan Barat sendiri, dapat dilihat
bahwa setidaknya terdapat tiga kabupaten/kota yang memiliki penduduk miskin
terendah. Dalam hal ini, penulis mengulik lebih dalam terkait salah satu kota
tersebut, yaitu Kota Singkawang.
Dalam sepuluh tahun kebelakang, tingkat penduduk miskin di kota singkawang menujukkan pola yang fluktuatif dengan tingkat tertinggi kemiskinan terjadi ditahun 2013. namun dilihat dari garis kemiskinannya, kota singkawang terus mengalami kenaikan garis kemiskinan. Hal ini menunjukkan semakin meningkatnya harga komoditas pangans, kuantitasnya , dan nilai pengeluaran untuk konsumsi komoditas. Dalam Hal ini, ekonomi di kota Singkawang dapat diasumsikan terus meningkat dengan baik.
Namun, dilihat dari sisi indek kedalaman dan keparahan kemiskinan, kota singkawang terus mengalami peningkatakan nilai indeks selama tiga tahun terakhir. Artinya bahwa ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan terus meningkat. Selain itu, ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga meningkat walau tidak signifikan. Peningkatan indeks ini dikarenakan berbagai faktor salah satunya yaitu pademi Covid-19. Tidak dapat dipungkiri pandemi tersebut mempengaruhi pergerakan ekonomi di kota Singkawang.
Dalam menanggulangi kemiskinan di Kota Singkawang, pemerintah kota setempat rutin melakukan rakor penanggulangan kemisikinan untuk mengevaluasi berbagai capaian dan kendala yang dihadapi Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan di Kota Singkawang. Dalam penekanan tingkat kemiskinan kota Singkawang, Langkah konkrit diambil untuk mencapat target tersebut. Dikutip dari InfoPuhblik, Langkah yang diambil pemerintah kota singkawang untuk menekan angka kemiskinan diantaranya adalah program penanggulangan kemiskinan berbasis bantuan sosial, berbasis pemberdayaan masyarakat, serta berbasis pemberdayaan usaha kecil, yang dijalankan oleh berbagai elemen pemerintah
Komentar
Posting Komentar