Jatuh Bangkit Ekonomi Kalimantan Barat
Pertengahan tahun 2019 menjadi awal dari tahun pandemi Covid-19. Situasi pandemi kala ini memberikan efek domino terhadap berbagai sektor bidang. Mulai dari sosial, ekonomi hingga pendiidkan menerima dampak yang cukup signifikan. Pasalnya, pandemi covid-19 memberikan efek distorsi ekonomi yang memberikan kecendrungan shifting kegiatan perekonomian. Kegiatan ekonomi yang semulanya berorientasi pasar fisik, mulai sedikit banyak bergeser ke pasar instan virtual atau secara umumnya dikenal e-commerce. Pada bidang lain, kegaitan sosial mulai bergeser dan dituntut untuk dilakukan secara digital dengan harapan penurunan penyebaran virus pandemi.
Sebagai negara berkembang, Indonesia merasakan berbagai implakasi
dari pandemic. Dampak ini dirasakan diberbagai penjuru daerah, tidak terlepas
dari Kalimantan Barat. Pada tahun 2020, Kaliman Barat menjadi provinsi dengan
tingkat infeksi virus paling tinggi dengan rata – rata 84 orang terinfeksi
dalam seharina. Dalam menekan penyebarannya, pemerindah daerahn (PemDa) menerapkan
aturan prokotol Kesehatan yang cukup strict pada salah satu jalur masuk
daerah. berdasarkan penelusuran pasien, kebanyak masyarakat tertular berasal
dari Tenaga Kerja Indonesia yang pulang dari kerja di Malaysia.
Secara ekonomi, KalBar selama mula pandemi pada pertengahan
tahun 2019 menunjukkan resesi pertumbuhan ekonomi sebesar 0,2% secara
pengeluaran. PDRB dilihat dari Lapangan usaha, tercatat pertumbuhan ekonomi melambat
dengan hanya tumbuh sebesaar 0,02%. Puncaknya, ketika covid-19 terjadi
peningkatan secara massif, ekonomi Kalbar terkontraksi sebesar 6,37% (yoy)
sehingga PDRB menunjukkan tumbuh negatif sebesar -1.28. PDRB pengeluaran juga
menunjukkan kontraksi ekonomi sebesar 1,27%. Tahun 2020 ketika Covid-19 naik,
memporak-porandakan perekonomian dari Kalimantan Barat.
Publikasi Badan Pusat Statistik Kalimantan Barat menunjukkan
bahwa pada triwulan II (yoy) di tahun 2020 Lapangan Usaha sektor transportasi
dan pergudangan dengan pertumbuhan sebesar -30.82%. pada triwulan senjutnya
menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang membaik walau masih masuk pertumbuhan negatif
dan lambat. Sektor Penyediaan akomodasi dan makan minum menujukkan penurunan
kontribusi PDRB dengan laju pertumbuhan sebsar -40.85.
hal ini dikarenakan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) mengakibatkan kegiatan
distribusi jasa, pangan dan pariwisata tidak dapat bergerak sebagaimana
biasanya. Sektor pertanian juga terkena imbas dari pandemi. Pertumbuhan ekonomi
selama empat triwulan di tahun 2020 tidak melebih 4%. Selama pandemi,
permintaan terhadap pertanian dan perkebunan menurun sehingga tidak mendongkrak
pendapatan petani. Dominan komoditas petani KalBar bertumpu pada kelapa sawit
dan karet. Meskipun nilai tukar dollar sempat meningkat, juga tidak dapat mendorong
peningkatan pendapatan petani karena negara industri impor tidak dalam keadaan
yang stabil untuk melakukan impor seperti biasanya.
Walau sempat mengalami kontraksi ekonomi yang melumpuhkan banyak
sektor kegiatan ekonomi. Kalimantan Barat dapat bangkit pada awal triwulan II di
tahun 2021. Hal ini ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi positif menyentuh
hingga angka 10.81%. Ekonomi bertumbuh dengan membaiknya kegiatan pariwisata di
Kalimantan Barat sendiri. Hal ini juga dibantu dengan kebijakan pemerintah yang
memberikan stimulus eknomi untuk menciptakan stabilitas. Kebijakan yang dibuat
salah satunya adalah pembebasan pajak hotel dan restoran selama kurang lebih 6
bulan dengan kompensasi hingga Rp3,3 Triliun. Dilain sisi, kegiatan internasional
seperti cap go meh dan imlek yang sudah diberikan izin untuk dilakukan juga
menjadi pemincut meningkatnya ekonomi daerah. Tambahan juga, promosi pariwisata
juga di reorientasikan ulang yang memancing banyak wisatawan lokal.
Komentar
Posting Komentar