Venustraphobia? bawa santai aja
Kalian pernah dengar venustraphobia? Ya, salah satu temanku dengan bangga mendiagnosis diriku masuk dalam fase itu. Sebenarnya cerita ini bukan satu moment, tapi rentetan Panjang yang kucoba kemas dalam karangan beberapa paragraph dan baris tulisan manis ini. Mari kita buka cerita ini dengan makna, yang menurutku aneh, venustraphobia. Istilah ini bisa dimaknai sebagai salah stu ketakutan pada wanita yang mempesona atau indah dimata. Kalian tidak salah dengar, hanya saja diagnosis tersebut merupakan hal yang dihiperbola dan dilemparkan kepadaku. Lebih tepatnya, aku pernah dimomen tidak nyaman atau sering terusik ketika berbicara ataupun berinteraksi dengan lawan jenis. Bedanya, tidak perlu wanita yang rupawan atau adilapangan, wanita umumnya juga sering membuatku terusik tak nyaman.
Prolog awal mungkin bisa kumulai dengan latar belakang terjadinya hal ini. Masa
SMA kala itu, aku sekolah jauh dari orang tua dan tinggal dalam asrama. Sekolah
boarding lebih tepat dalam penggambarannya dan lebih umum pula dikenal secara luas. Tentu saja, ketika kalian
sudah dalam sebuah asrama, bertemu atau interaksi dengan lawan jenis adalah hal
yang langka. Bahkan dalam kelas gabungan pun, laki – laki sudah membuat pola
duduk menggerombol mulai dari sudut kanan kelas hingga kebelakang. Perempuannya
sudah siap dengan rangkaian kursi dempetnya
dan siap membagi berita sesuai selera mereka. Ini tidak aneh dan memang begitu
adanya, dari sini aku mulai hampir tidak pernah berkomuniksai dengan mereka
selain kegiatan besar. Ditambah dengan ketika pulang yang hanya setahun satu
atau dua kali, itupun tidak banyak teman Pendidikan menengah yang bisa kuhubungi
karna waktu itu teman dekatku juga terhitung jari. Entah takdir apa yang
menungguku waktu itu, aku juga lulus dalam universitas yang notabene islam. Dalam
hal ini pola yang sama kurang lebih berjalan mirip seperti di SMA hingga
pertengahan semester pertama. Keadaan itu sampai dimana ketika aku berinteraksi
dengan lawan jenis, rasanya sangat tidak nyaman sampai mengundang mual atau
keringat dingin. Ini mirip seperti demam panggung hanya saja kita bukan menghadapi
audiens, tetapi seorang wanita. Untungnya
aku masih bisa seperti melihat kearah mereka dan bersikap datar seolah – olah tidak
terjadi apa apa. Harapannya bahwa respon yang mereka terima biasa saja tanpa
perlu tau aku dalam tekanan jiwa. Hal ini terjadi karena dalam diriku merasa
tidak ada urgensi untuk perlu banyak berinteraksi dengan wanita. Disaat yang
sama, sifat diriku seperti “yaudahlah ya, mau gimana lagi” juga menempel lekat
dikepalaku, sehingga aku memiliki kecendrung tidak begitu memperhatikan sekitar dan
hanya fokus ke apa yang perlu kukedepankan.
Keadaan ini diketahui temanku ketika di kampus dulu. Dia juga
yang memberikan gelar phobia tersebut kepadaku. Saat itu, kebetulan dia teman
satu satunya yang cukup dekat. Sebut saja dia dengan Liem. Entah aku harus
sedikit bersyukur karena masih punya teman, atau sebenarnya aku malah harus
banyak doa tolak bala karna temanku satu ini serasa jelmaan setan yang menyeruapi
manusia. Bagaimana tidak, dia sering bertanya terkait hal yang tidak masuk akal
sehat. Salah satunya, “kalau dalam keadaan darurat, boleh gk sih kita wudhu
pakai air manis yang jadi bekal kita dalam perjalanan?? Kalau boleh, entar
kumur kumurnya langsung ditelan aja boleh gk ya atau harus tetap dibuang?”. Bawaannya
bukan mau jawab pertanyaannya, tapi lebih ke mau nge jedotin palanya
digerbang kampus biar balik kesetelan pabrik dan normal lagi. Dari Liem juga, aku
jadi rajin ambil “jatah” kelas Bahasa arab sore yang rutin setiap hari
dilaksanakan untuk semester pertama dan kedua. “Bayangkan aja, kelas tiap hari,
senin sampai jumat kalau jatah 20 persennya pasti gede dong” jelasnya dengan rasa
seperti telah mengemukakan ide cerdas. Rasanya setan yang menghasutku banyak nganggur
dibanding kerja karna jobdesc-nya udah dikerjakan dengan baik oleh temanku.
Aku masih sering mempertanyakan diri, kenapa saat itu bisa jadi temanku.
Singkat cerita, saat itu kami melakukan rutinitas ambil
jatah kelas sore. rutinitas ini biasa
kami isi dengan hunting jamur krispy atau tahu tempe bakar dibelakang kampus
yang amat sangat murah waktu itu. Kalaupun
tidak, kita Cuma kembali ke asrama untuk push tropi di game clash royal.
Hanya saja saat itu, Liem banyak menunjukkan gelagat aneh. Selama kearah gerbang
belakang, dia lebih banyak cengesan sambil sesekali seperti menahan gelak tawa. Ditempat biasa, kita duduk, memesan
makan dan mulai membuka topik obrolan biasa. 5 menit, 10 menit, hingga akhirnya
selang 15 menit setelahnya, seorang wanita datang dan memilih langsung duduk
dibanding memperkenalkan dirinya. Posisinya sekarang aku disebelah Liem dan
wanita tersebut berhadapan langsung dengannya. Entah apa motivasinya, ternyata
wanita tersebut adalah pacar si Liem. Awalnya aku tidak begitu ambil pusing mengingat
temanku memang memiliki cara berpikirnya sendiri yaitu “tidak berpikir”. Mereka
berbicara cukup lama dan aku masih diam karna tidak tau harus mengambil sikap
apa.
Masalah mulai muncul, tiba – tiba temanku satu ini pergi ke
toilet dan meninggalkan kami berdua. Aku mulai canggung dengan situasi. 5 menit
masih terkendali, 10 menit selanjutnya mulai seperti ujian. Selang 15 menit
tiba – tiba notif pesat cepat muncul dari hpku. Header badge
menunjukkan dari Liem. Kalian tau apa yang dia bilang? “Cuy aku lagi push
tropi Clash Royale, kau ngobrol lah dulu dengan dia yak. Jangan kau tinggalin. Awas aja kau tinggalin”. Nah kan, nah
kan, penyakitnya muncul. Ide bodoh mana pula, ninggalin pacarnya dengan temen
yang ngobrol sama lawan jenis aja butuh tenaga, usaha dan doa. Sungguh, beliau
ini sudah kusumpah serapah disaat itu. Tidak selang lama, si wanita memilih
membuka suasana dengan melempar pertanyaan basa basi. Dugaanku, dia juga dapat
pesan dari liem untuk menyambung bicara denganku. Kita akhirnya berbicara,
walau percapakan cenderung dipaksa dan hampir seperti wawancara. Aku benar
benar mengelurkan semua usaha untuk tetap tenang karena tidak ada alasan untuk pergi. Pertanyaan klasik dan gestur canggung melengkapi suasa atmosfer
permbicaraan kami. Aku tidak tahu apakah si liem push tropi sampai mentok atas
atau dia sedang membantu persiapan konferensi tingkat tinggi Asia – Afrika, dia
benar – benar baru datang setelah hampir 30 – 45 menit kedepan. Dia datang
dengan menepuk bahu lalu lempar senyum puas dengan pertanyaan “Gimana cuy? Aman”
sambil senyum lebar. Tidak lama setelahnya, kami pulang. Si Liem mengantar si wanita. Aku pulang dengan sisa tenaga yang tersisa.
Momen ini terdengar aneh, tapi kalian tidak akan merasa aneh
ketika tahu seberapa acaknya pemikiran dikepalanya. walau demikian, aku sedikit
harus akui bahwa momen ini menjadi titik balik penyakitku sendiri. Hasil
obrolan terpanjang kala itu menumbuhkan pemikiran “ternyata tidak begitu buruk
juga”. Walau butuh beberapa bulan hingga tahun lamanya. Dua tahun lebih atau
tepatnya sekarang, aku benar benar sudah tidak ada kecanggungan itu kembali. Doa
dan terima kasih ku masih sering kugumamkan setiap mengingat momen tersebut.
Komentar
Posting Komentar