Aku dan Tulisan
Pada dasarnya manusia tidak lepas dari interaksi satu sama lain, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Zaman yang serba modern ini juga menjadi jalur masifnya berbagai interaksi tersebar. karya tulis atau publikasi tulisan, Salah satu media informasi yang edukatif dan tetap eksis mengikuti perkembangan zaman. Media lama tetapi terus memberikan sumbangsih dalam perkembangan aspek kehidupan. Lalu, bagaimana tulisan dimata kalian?
Bagiku, tulisan adalah bentuk membangun dunia persepsi. Interaksi pikiran dalam tulisan membangun persepsi manusia. Interaksi ini saling melengkapi dari kebutuhan intelektualitas ataupun imajinasi satu sama lain. Dalam sebuah kutipan novel popular dikatakan bahwa “membaca apa yang telah diyakini orang lain dapat membantu kita merumuskan sudut pandang kehidupan kita sendiri”. Kutipan yang disampaikan Jostein Gaarder, dalam sebuah karya tulisannya yang dikemas dalam sebuah novel Fiksi Dunia Sophie, menyampaikan bagaimana tulisan dapat membuat jalur interaksi antar satu sama lain.
Bagiku, tulisan dapat menjadi ruang representasi, mawas diri dan media membekukan memori. Terlepas dari persepsi satu sama lain, tulisan dapat pula menjadi media ekspresi diri. Gambaran diri tergambar dari bentuk alur, diksi, serta gaya penulisan. Pada intinya, tulisan menciptakan ruang refleksi diri yang memuat banyak imajinasi dari pemilik tulisannya. Tidak jarang karya tulisan bergenre imajinatif merupakan bentuk adaptasi imajinasi lingkungan penulis yang dikemas sedemikian rupa menjadi cerita siap saji bagi pembaca. Selain itu, Meluangkan tulisan terkadang sama dengan mencurahkan memori untuk membuatnya tetap abadi. Tulisan dapat menjadi sebuah ungkapan perasaan. Andaikata kita adalah pencipta cerita dunia kita yang dicurahkan dalam lagu lama, maka tulisan adalah serpihan gulungan kaset kuno yang dapat membanun ulang reka adegan jalan ceritannya. Pertanyaanya adalah, “apakah kita sudah mengarsipkan cerita kita dalam kaset kuno tersebut”. Jawaban ini menjadi personal mengingat kita bisa saja memilih membekuka memori dalam sebuah jepretan kamera yang dapat diatur diagfragma cahaya kenangannya. Atau pula, kita lebih senang dalam menyimpan kenangan dalam lingkar memori ingatan kita. Itu adalah pilihan personal kita, tetapi hal pasti adalah kita dapat memanfaatkan media ini dalam menyimpan berkas cerita kita.
Bagiku, tulisan adalah jembatan pemikiran. Ruang imaji tentunya memiliki ruang tersendiri di hati setiap pembaca, tetapi ruang berpikir kritis juga selalu ada dalam karya tulisan. Kita tahu benar bahwa tulisan menjadi jalan saling melengkapinya sebuah pemikiran. Tulisan yang dibalut dan didasarkan pembuktian empiris selalu berkembang dan memacu semangat membangun peradaban. Tulisan menjadi ruang saling menjelaskan pemikiran dan tujuan. Pemikiran yang menyesuaikan dan menyelaraskan dengan perkembangan. Tujuan untuk terus memberikan inovasi dan pembaharuan.
Bagiku, karya tulis dapat membantu mengisi jawaban kehidupan orang lain serta dapat memberikan kebermanfaatan secara luas. Dalam ranah penulisan, pada intinya adalah memberikan kebermanfaatannya tersendiri. Hal ini tidak terlepas dari esensi menulis yaitu membagi pemikiran dan penelitian. Merujuk dari hal ini, secara tidak langsung sebuah tulisan yang berdiri dapat membantu menjawab serta menghadirkan solusi bagi suatu permasalahan. Hal inilah yang membuat tulisan dapat membantu mengisi jawaban kehidupan seseorang serta menjadi rujukan dalam membangun pola pikir lainnya.
Dalam berjalannya waktu, kitalah yang menjadi ruang penentu bagaimana membawa tulisan dalam kehidupan. Menulis bukan sekadar kegiatan mengkhayal belaka. Kegiatan membangun imajinasi ataupun menghadirkan bukti empiris membutuhkan konsistensi dan tujuan yang kuat. Adakalanya juga tulisan dapat berupa konsumsi pribadi untuk memupuk memori. Oleh karena itu, tulisan dapat dimulai tentang diri kita. Tidak perlu validitas atas cerita diri, tidak ada objektifitas “iya” dan “tidak”, tetapi bagaimana kita memcoba berani dalam mengekspresikan diri.
Komentar
Posting Komentar