Kenaikan Sanitasi tidak serta menurunkan kasus penyakit menular: Studi kasus Kalimantan Barat

 

Penyakit menular merupakan salah penyebab kematian dengan rentang waktu yang relatif singkat di dunia, begitupula di negara Indonesia sendiri. Hal ini tidak terlepas dengan Bagaimana penyebaran dan dampaknya kepada penderita itu sendiri. Kementrian Kesehatan menjelaskan bahwa Penyakit Menular merupakan penyakit yang dapat menular ke manusia yang disebabkan oleh agen biologi, antara lain virus, bakteri, jamur, dan parasit dalam peratuannya tahun 2014 tentang “Penanggulangan Penyakit Menular”. Pemerintah Indonesia juga mewanti masyarakat agar tetap waspada kepada penyakit menular ini karena penyakit menular senantiasa membawa potensi terjadinya wabah menular dengan skala yang lebih besar. Dampaknya, penyakit ini akan meningkatkan angka kesakitan masyarakat secara signifikan dalam satu waktu tertentu.

Merujuk hal tersebut, sikap prefentif perlu diambil serta melihat faktor yang berperan besar dalam penyebarannya. Mengutip dari Kementrian Kesehatan, selain dapat mengurangi kerugian ekonomi serta mendukung proses belajar anak anak, sanitasi yang baik dapat membantu mengurangi prevalensi penyakit menular yang ada dimasyarakat. Dalam peraturan Menteri Kesehatan nomor 3 tahun 2014 menjelaskan bahwa setidaknya ada lima poin yang membuat sanitasi sebuah daerah menjadi baik. Poin tersebut diantaranya adalah 1) membuat jamban yang sehat dengan standar Kesehatan. 2) akses dan kebiasaan untuk mencuci tangan dengan sabun. 3) pengelolaan air minum rumah tangga yang baik. 4) Pengamanan Sampah Rumah Tangga serta yang terrakhir 5) Pengamanan limbah cari rumah tangga. Secara teori sanitasi yang baik seharusnya dapat menekan angka dari penyebaran penyakit menular. Penggalakkan dan sosialisasi sanitasi yang baik perlu menjadi perhatian dari pemerintah. Peningkatan kelayakan sanitasi setidaknya dapat menghindari potensi penyebaran beberapa penyakit yang diantaranya adalah diare, tipes, dan lainnya.

Kalimantan Barat merupakan salah provinsi di Indonesia yang memiliki proporsi rumah tanggan yang memiliki akses sanitasi layak yang dibawah proporsi secara nasioanl. Ini ditunjukkan. Berdasarkan time series tahun 2018 – 2021 data persentase rumah tangga yang memiliki akses sanitasi layak meruut kabupaten/kota diperoleh grafik sebagai berikut.

Data menunjukkan tren naik untuk persentase sanitasi di Kalimantan Barat. Kenaikan signifikan pada terjadi pada tahun 2018 ke 2019 dengan kenaikan sebesar 18.11%. Walau demikian, kenaikan angka ini masih dibawah dari rata – rata nasional. Pada tahun 80.29%. Dalam hal ini perlu adanya perhatian lebih untuk pemerintah daerah dalam menanggapi hal ini. Terkhusus daerah yang masih sangat buruk dalam hal akses sanitiasinya. Tercatat bahwa daerah seperti landak, sintang, sekadau memiliki persentase berturut turut sebesar 62.85%, 65.33%, dan 69.63. angka ini terbilang sangat rendah dibandingkan dengan kota/kabupaten lainnya.

Sanitasi baik dapat mencegah berkembangnya penyakit menular. Dalam sebuah artikel dari fakultas kedokteran Universitas Surabaya, dikatakan bahwa sanitasi yang tidak baik memberikan dampak berkembanganya berbagai macam penyakit lingkungan, seperti ISP, malaria, DBD, Diare dan berbagai penyakit lainnya serta mengakibatkan naikknya angak morbiditas dan mortalitas (Ummy, 2019). Pada Satu Data Pada Provinsi Kalimantan Barat ditunjukkan tingginya angka penyakit menular pada tahun 2021. Angka kasus tertinggi jatuh pada penyakit diare sebanyak 36.089 kasus, disusul dengan TB sebesar 6696 kasus, DBD sebanyak 664 kasus dan malaria sebanyak 10 kasus. Ini menunjukkan rendahnya sanitasi pada Kalimantan barat mengakibatkan besarnya kasus penyakit menular terutama diare pada tahun 2018.

Secara tahun pertahun, data penyakit menular yang terjadi di kalimatan barat cenderung menunjukkan fluktuatif. 

Secara teori, sanitasi yang semakin baik seharusnya dapat menurunkan jumlah kasus penyakit menular di suatu daerah. Pada kasus diatas menunjukkan bahwa ketika sanitasi naik tetapi menunjukkan kenaikan kasus naik yang signifikan ditahun yang sama. Anomali mencerminkan bahwa sanitasi belum cukup menjadi faktor untuk menurunkan kasus diare di Kalimantan Barat. Dilain sisi, peningkatan akses sanitasi berbanding terbalik dengan kenaikan kasusu pada malaria. Hal ini juga ditunjukkan dengan tren kasus malaria yang tren turun setiap tahunnya.

Pada kasus DBD menunjukkan tren turun mulai dari tahun 2017. Hal ini berbanding terbalik dengan keadaan sanitasi di Kalimantan barat mengalami penurunan antara tahun 2016 – 2017, tetapi setelahnya mengalami kenaikan secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan dapat dilihat bahwa perbaikan fasilitas sanitasi rumah tangga dapat menurunkan kasus dari penyakit menular. Hanya saja, terjadi anomali pad kasus diare. Hal ini bertolak belakang secara teoritis, sehingga pemerintah dapat memberikan perhatian pada penanganan kasus diare. Besar kemungkinan selain sanitasi, kebersihan dari sumber makanan masyarakat yang buruk menjadi penyebab terjadinya kasus diare yang terus meningkat. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan akses sanitasi yang baik dan kasus diare yang terus meningkat, perlu dilakukan sosialisasi serta menggalakkan program kebersihan lingkungan masyarakat Kalimantan Barat.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Singkawang dalam Kacamata Kemiskinan

Venustraphobia? bawa santai aja

Air Bersih dan Sanitasi di Kota Singkawang