Kota "Hongkongnya Indonesia" Serta Pariwisatanya

Indonesia merupakan salah satu negara dengan berbagai macam kekayaan, baik budaya, Bahasa maupun sejarahnya.  Kekayaan tersebut menjadi potensi serta karakteristik Indonesia yang menarik minat dari wisawatan luar. Dari berbagai daerah yang terkenal, terdapat salah satu Kota yang bernama Kota Singkawang. Kota ini umumnya dikenal dengan “kotanya orang cina” atau “Hongkongnya Indonesia”. Istialah ini bukan julukan yang diberikan secara historis, melainkan memang dari karakteristik dari kota dan masyarakatnya.

Tercapat bahwa dalam sensus 2020, lebih dari 40 persen dari total proporsi penduduk kota singkawang merupakan etnis dari tionghoa, Sedangkan, selebihnya adalah campuran dari melayu, dayak, batak, dan suku lainnya. dengan penduduka yang plural, memberikan warna budaya, kepercayaan yang beragam pada kota Singkawang sendiri. Hal ini juga tidak terlepas dari kegiatan budaya dan perayaannya.

Merujuk dari Heterogenitas masyarakat di kota Singkawang, perayaan serta kegiatan budayanya menjadi salah satu konsumsi pariwisata yang menarik bagi pengunjung domestik dan mancanegara. Ini terlihat dari data yang dikompilasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun publikasi Singkawang dalam Angka untuk tahun 2023. Dalam publikasinya, jumlah wisatawan yang mengunjungi kota singkawang mencapai kurang lebih satu juta 15 ribu kunjungan pada tahun 2022. Total ini berdasarkan jenis wisawatannya. Untuk wisawatan mancaegara, kunjungan pada tahun 2022 mencapai kurang lebih 2 ribu kunjungan dan untuk wisawan domestic kurang lebih satu juta 13 ribu. Jika dibandingkan dengan beberapa dekade sebelumnya, jumlah kunjungan pada tahun 2022 merupakan jumlah kunjungan tertinggi yang pernah tercatat sebelum.







Sumber gambar: kemenparekraf

Dalam perkembangannya, daya tarik wisata tidak hanyak dari suguhan tradisi kebudayaan dari masyarakatnya, tetapi juga dari destinasi wisata serta partisipasi masyarakat itu sendiri. Meninjau dari destinasi wisata budaya, beberapa kegiatan tahunan yang selalu menjadi perhatian wisatawan adalah perayaan hari cina itu sendiri. Perayaan tersebut meliputi kegiatan cap go meh, imlek, serta tahun barunya. Perayaan diramaikan dengan beberapa kegiatan seperti ritual budaya, wisata kuliner, pawai lampion hingga pertunjukkan seninya. Cap go meh sendiri merupakan budaya kental antara Dayak dan tionghoa. Tercatat bahwa pusat perayaan festival cap go meh Singkawang menjadi pusat perayaan di Indonesia. Selain digelar secara meriah, kegiatan ini juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta membuka beberapa peluang pekerjaan tahunan. Festival pameran umkm juga tidak terlepas dari rangkaian kegiatan ini. Hampir setiap tahun, kota singkawang mulai dipenuhi wisatawan menjelang perayaan ini terhitung dari 2 bulan sebelum kegiatan hingga beberapa minggu setelah kegaitannya. Sesuatu yang tidak ketinggalan dan menambah unsur kemeriahannya yaitu ribuan lampion merah yang tergantung dari gerbang masuk kota Singkawang hingga jl pangeran diponegoro (salah satu jalan besar di singkawang). Di Singkawang sendiri bukan hanya ketika kegiatan imlek dan hari cina lainnnya, namun hampir semua perayaan akan digantung lampion yang menyesuaikan tema dari perayaan itu sendiri. Semisal ketika perayaan hari islam atau Ramadhan, lampion yang digantung adalah lampion ketupat yang dominan warna hijau. Ketika perayaan natal dan pascah, lampion yang digantung adalah pohon natal.

Selain menyuguhkan wisata budaya, destinasi wisata alam dan buatan juga menjadi potensi pariwisata yang selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal. Di Sendiri, setidaknya terdapat beberapa destinasi wisata pantai, pegunungan, serta danau. Setiap tahunnya, pantai akan ramai menjelang pergantian tahun baru.

Secara umum, tidak hanya destinasi wisata budaya dan tempatnya saja yang menarik, tetapi juga masyarakat yang kental akan keragaman yang selalu toleransi kesekitar. Tercatat bahwa kota Singkawang menjadi kota “tertoleransi” pada tahun 2021. Dalam hal ini, tidak ada rasa superioritas antar ras, sikap masyarakat inilah yang saling menghargai ini menciptakan suasana yang nyaman bagi pengunjung dan masyarakat lokal sendiri. Hal ini menjadi salah satu faktor penting yang membangun ekosistem masyarakat yang nyaman dan tentram


 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Singkawang dalam Kacamata Kemiskinan

Venustraphobia? bawa santai aja

Air Bersih dan Sanitasi di Kota Singkawang