Pendekatan Pembangunan Ekonomi Provinsi Kalimantan Barat dengan Konsep Ekonomi Biru (Blue Economy)

 

Badan Perencanaan dan Pembangan Nasional (BAPPENAS) dalam sebuah siaran persnya pada 25 November 2021 menyampaikan sebuah konsep kerangka ekonomi pembangunan nasional untuk Indonesia. Kerangka kerja ini mengusung konsep pemanfaatan dan optimalisasi sumber daya yang ada, namun tetap bersimbiosis dengan kelestarian lingkungan sekitar. Konsep Blue Economy diperkenalkan sebagai bentuk komitmen untuk membangun pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih inkusif. Kerangka kerja ekonomi biru diusung untuk menyerap tenaga kerja lebih, meningkatkan kelestarian lingkungan ekosistem kelautan dan pesisir, serta mata pencaharian berkelanjutan.

Dalam bukunya yang berjudul Blue Economy Development Framework for Indonesia’s Economic Transformation, Kementrian PPN yang bekerja sama dengan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mendefinisikan konsep Ekonomi biru sebagai kerangka kerja yang dapat memacu pertumbuhan ekonomi nasional yang ramah lingkungan dan menyesuaikan dengan kemaritiman negara Indonesia sendiri.  Hal ini selaras dengan konsep ekonomi biru yang pertama kali di perkenalkan Gunter Pauli dalam bukunya yang berjudul The Blue Economy, 10 years – 100 innovations – 100 million jobs pada tahun 2010. Konsep yang diperkenalkan dari Gunter yaitu menyalurkan nutrisi sumber daya alam tanpa limbah dan berfokus pada kreativitas keragaman produk dan sistem produksi serta manajemen tata kelola sumber daya.

Melihat ranah fokus ekonomi biru yang lebih cenderung pada ekosistem dan sumber daya perikanan serta pesisir, Kalimantan Barat sebagai salah satu dari 38 provinsi di Indonesia, memiliki potensi besar untuk teroptimalisasi pada implementasi ekonomi biru. Berangkat dari profil perikanan Kalimantan Barat, area Fishing Ground yang terletak pada 02 LU – 03 LS, 106 BT – 110 BT memiliki potensi tangkap hingga 1,143 juta ton setiap tahunnya. Area tangkap ini bukan hanya dimanfaatkan nelayan Kalimantan Barat saja, tetapi nelayan provinsi Riau, Jambi, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, DKI Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Barat sering memanfaatkan sumber daya ikan diwilayah ini. Secara geografisnya, Kalimantan Barat memiliki luas wilayah laut sebesar 52.271 Km2, luas terumbu karang 71.634,47 Ha, dan 1.398 Km2 sebagai luas garis tepi pantai.

Besarnya potensi hasil perikanan yang dihasilkan, perikanan menjadikan salah satu sektor di Kalimanta barat yang mendonimasi pada triwulan III tahun 2022 sebesar 20,85 persen untuk PDRB menurut lapangan usaha. Sektor ini termasuk dalam golongan usaha pertanian, perikanan dan kehutanan. Nilai ini menjadi besar mengingat kontribusi sekor tersebut memiliki proporsi sebesar seperlima dari laju ekonomi di Kalimantan Barat.

Pada kacamata serapan tenaga kerja, walaupun tren menunjukkan serapan tenaga kerja yang fluktuatif, rata – rata pada sektor yang memanfaatkan sumber daya alam sebagai mata pencaharian utama memiliki rataan serapan 1,223 juta jiwa pada rentang tahun 2015 – 2019. Serapan tenaga kerja ini diiringi dengan fasilitas penunjang yang diberikan dalam rangka membantu menyejahterakan masyarakatnya sendiri. Dalam perkembangannya, dikutip dari statistik perikanan tangkap Kalbar yang dikeluarkan pada tahun 2015, dijelaskan bahwa dari Sembilan jenis armada kapal pada setiap kabupaten/kota nya memiliki total armada kapal tercatat sebanyak 14.251 unit dengan jumlah terbesar unit kapa yaitu KM < 5 GT sebanyak 4.447 dan kapal dengan unit paling minimum KM 20 < 30 GT sebayak 68 unit.


Pemerintah Daerah juga membentuk sebuah perjanjian kemitraan untuk pengelolaan Kawasan konservasi perairan Kalimantan Barat. Perjanjian ini menetapkan 5 kawasan konservasi  perairan. Kemitraan dan koordinasi yang dibentuk diharapakan dapat mengoptimalisasi sektor perikanan serta membantu membentuk wilayah konservasi berkelanjutan. Harapannya, pendekatan ekonomi biru yang mengusung konsep ramah ekosistem dapat dicapai. Dalam perkembangannya, kebijakan yang dibentuk menargetkan pemberdayaan masyarakat sekitar tanpa melupakan kewajiban untuk menjaga lingkungan dan keseimbangan ekosistem sumber daya alamnya

Sumber:

Balai Pengelolaan Sd Pesisir & Laut Pontianak, https://kkp.go.id/djprl/bpsplpontianak/artikel/43565-dukung-pengelolaan-kawasan-konservasi-perairan-di-kalimantan-barat-bpspl-pontianak-hadiri-penandatanganan-perjanjian-kemitraan

Kementrian Keungan (2022) , Kajian Fiskal Regional Kalimantan Barat Triwulan III.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), https://www.bappenas.go.id/id/berita/bappenas-luncurkan-blue-economy-development-framework-for-indonesias-economic-transformation-NNTgJ

Profil Perikanan Tangkap Provinsi Kalimantan Barat


 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Singkawang dalam Kacamata Kemiskinan

Venustraphobia? bawa santai aja