Kalbar Perlu Melakukan Transisi Ekonomi (?)

Suatu wilayah sangat memungkinkan untuk mengalami perubahan struktur ekonomi. Kontraksi ekonomi, krisis moneter serta banyaknya faktor atau determinan yang mempengaruhinya, dapat membawa transisi paradigma ekonomi. Umumnya, transformasi ekonomi merupakan bergesernya kegiatan ekonomi yang berdasarkan suatu komoditas alam menjadi ekonomi berbasiskan industri. Jenis eknomi ini memberikan manfaat yang luas. Selain tidak bergantung sepenuhnya pada keadaan sumber daya alam, ekonomi industri menyerap banyak tenaga kerja yang secara tidak langsung dapat menurunkan angka kemiskinan.

Kalimantan barat sebagai salah satu provinsi di Indonesia terus berupaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Dilihat dari Pendapatan Domestik Bruto (PDRB) yang mengacu pada Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) kontribusi perikanan, pertanian, dan perkebunan masih menjadi sektor yang mendominan dalam 10 tahun terakhir. Pada publikasi yang diterbitkan oleh BPS provinsi Kalimantan Barat, diketahui bahwa dalam jangka waktu tahun seri 2018 hingga 2022, sektor pertanian, perikanan dan perkembunan memberikan kontribusi kepada PDRB daerah sebesar 20,712%. Disusul dengan sektor Industri Pengolahan/Manufacturing sebesar 16,32% dan perdagangan Besar dan Eceran sebesar 13.59%. dilain sisi, sektor jasa memberikan kontribusi yang masih sangat kecil. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya kontribusi sektor jasa hanya sebesar 0.4 pada triwulan IV. Secara umum, data menunjukkan bahwa Kalimantan barat masih sangat bergantung pada sektor pertanian, perikanan dan perkebunan sebagai penyokong kegiatan ekonomi daerah.  

Berangkat dari hal tersebut, provinsi yang dikenal dengan “Seribu Sungai” ini memiliki Tingkat Pengangguran Terbuka yang cukup tinggi di angka 5,82% pada bulan Agustus di tahun 2021. Hal ini menunjukkan kurangnya sumber serap ketenagakerjaan daerah. Selain itu, secara Indeks Pembangunan Manusia, Kalbar masih dibawah IPM nasional sebesar 68,63%. Angka ini menunjukkan rendahnya dari pencapaian pembangunan manusia sebagai dampak dari pembangunan yang dilakukan daerah.

Meskipun demikian, sektor pertambangan masih mendorong terbuka lapangan kerja dan mendorong ekonomi daerah. Hal ini ditunjukkan dengan membaiknya angka TPT sebesar 4,86%. Selain itu, pemerintah terus berupaya meningkatkan fokus pada sektor yang menjadi keunggulan dari Kalimantan barat sendiri. Hal ini terlihat dari besarnya alokasi dana untuk membantu mendukung pembangunan daerah konservatif rawa, bantuan terhadap nelayan daerah dan program pertahian berkualitas lainnya. Dalam hal ini, belum ada terjadi transisi ekonomi yang massif untuk membangun ekonomi yang berlandaskan industri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendekatan Pembangunan Ekonomi Provinsi Kalimantan Barat dengan Konsep Ekonomi Biru (Blue Economy)

Singkawang dalam Kacamata Kemiskinan

Venustraphobia? bawa santai aja