Resolusi Diri: Melangkah dan Siap Diri dalam Tugas Akhir

 

Menjadi mahasiswa bukan berarti lepas akan dimensi waktu dan aturan. Perspektif yang memandang mahasiswa sebagai siswa tetapi “versi lebih bebas” tidak salah sepenuhnya. Pada berjalannya waktu, “versi lebih bebas” ini lebih mengarah kepada bagaimana kita memegang kendali penuh atas diri kita. Selayaknya siswa, mahasiswa tetap memiliki kewajiban dan bebannya masing masing. Mahasiswa memilih jalur masa depannya, ia juga menuntun dirinya untuk jadi apa dengan memilih setiap keputusannya. Walaudemikian, selalu ada akhir fase mahasiswa. Fase ada bukti konkrit yang menyebabkan ia lepas dari status “Maha” atas siswa yang belajar di perguruan tingginya. Tugas besar dan tanggung jawab jangka Panjang yang dikenal dengan tugas akhir menjadi jalur konkrit akhir perjalan ini dan membuka jalur baru kedepan.

Bagi ku, menjadi mahasiswa menjadi kesempatan luar biasa yang diberikan tuhan sebagai karunia. Tidak banyak orang memiliki motivasi dan kesempatan yang sama untuk terus mengampu dunia pendidikan hingga status mahasiswa. Diriku yang sekarang sudah masuk fase akan menghadapi tugas akhir sebagai Langkah akhir di Kampus dan membuka gerbang baru untuk terus melanjutkan perjalanan hidup. Siap tidak siap, fase ini akan datang dan menjadi tantangan besar bagi setiap mahasiswa.

Mengutip dari dosen yang mengajar dalam penulisan karya ilmiahku, tugas akhir yang mudah selesai adalah ketika topik yang diambil merupakan topik yang kita senang untuk geluti. Bagai jatuh cinta, kita akan senantiasa memberikan waktu dan tenaga sepeneuh hati. Nyatanya, aku terperangkap dalam dilemma. Dilain sisi, aku adalah mahasiswa yang menyukai teknologi, program berbasis website tetapi dilain sisi program studi statistika menjadi dasar keilmuanku. Aku tidak memiliki keteliatan dan ketekunan dalam statistika dibandingkan dengan teman seperjurusanku. Dilain sisi, aku tidak pernah paham terkait penulisan Tugas akhir program karena diriku yang sekarang lebih dekat dengan teknis dibandingkan dengan teori pemograman.

Mengajukan topik statistik atau memilih lintas jalur program terus berputar dikepalaku tanpa ada solusi aplikatif yang bisa kuambil. Pada intinya, harapanku tidak stagnan dalam menentukan alurnya sendiri, jadi lebih kuputuskan untuk membangun persiapan kediri sendiri. Harapanya, mendekati tugas akhir ini, aku lebih peka dalam melihat waktu dan memanfaatkannya dengan lebih bijak. Berkaca kediri sekarang, waktu jarang kugunakan untuk membaca sintesis literatur, atau sekedar melihat jurnal nasional dan international. Hal ini karena memang bukan pola yang kubiasakan. Tentunya juga, kedepan aku harap bisa disiplin terhadap diri sendiri. Media sosial sering mendistraksiku dari fokus kuliah, sehingga jadwal target pengerjaan sesuatu jauh melewati dari hari yang kutentukan. Terakhir, untuk tugas akhir ini aku harap malas dan rasa prokastinasiku bisa jauh berkurang sehingga waktu lebih efektif dan banyak membuat tenggat dengan rapi. Semua harapan ini kubungkus menjadi “resolusi persiapan diri untuk mencapai tugas akhir yang menunggu”.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendekatan Pembangunan Ekonomi Provinsi Kalimantan Barat dengan Konsep Ekonomi Biru (Blue Economy)

Singkawang dalam Kacamata Kemiskinan

Venustraphobia? bawa santai aja